Alur Cerita Film Horor Attack 13 (2025)

 



Alur Cerita Film Horor Attack 13 (2025): Saat Ratu Bully Bangkit Menjadi Arwah Pendendam

Pendahuluan

Dalam kebanyakan film horor, sosok hantu biasanya digambarkan sebagai korban—entah itu korban perundungan, ketidakadilan, atau kejahatan tragis yang membuat mereka meninggal dengan penuh penyesalan. Arwah mereka kemudian kembali untuk mencari keadilan atau membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakiti mereka.

Namun, film horor terbaru tahun 2025 ini justru mengambil pendekatan yang berbeda—bahkan bisa dibilang berani dan tidak biasa.

Bayangkan jika yang meninggal bukanlah korban… melainkan pelaku utama perundungan itu sendiri.

Dan yang lebih mengerikan lagi, ia tidak pergi dengan tenang.

Sebaliknya, ia kembali sebagai arwah gentayangan yang dipenuhi dendam, bahkan jauh lebih kejam dibandingkan saat ia masih hidup.



Awal Teror: Ritual Gelap di Tengah Hutan

Cerita kemudian membawa kita ke sebuah tempat yang jauh dari peradaban—sebuah hutan lebat yang dipenuhi kabut tebal, gelap, dan sunyi. Suasana di sana terasa mencekam, seolah-olah menyimpan rahasia kelam yang tak seharusnya diganggu.

Di tengah hutan itu, berdirilah sebuah tempat sederhana yang menjadi kediaman seorang dukun sakti. Ia dikenal sebagai sosok yang menguasai ilmu hitam tingkat tinggi, seseorang yang mampu berhubungan dengan dunia gaib dan memanggil kekuatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia.


Pada malam itu, sang dukun tengah melakukan sebuah ritual terlarang.

Di hadapannya, terdapat seorang sosok misterius yang wajahnya tidak diperlihatkan. Identitasnya masih menjadi tanda tanya, namun jelas bahwa ia datang dengan satu tujuan besar—sesuatu yang berhubungan dengan kematian.

Ritual pun dimulai.

Dengan penuh konsentrasi, sang dukun menciptakan sebuah pusaka mengerikan. Ia melilitkan tubuh seekor ular dan kelabang menjadi satu, membentuk simbol kekuatan jahat yang menyatu. Kedua makhluk itu bukan sekadar hewan biasa, melainkan lambang dari racun, kebencian, dan energi gelap yang mematikan.

Perlahan, pusaka itu mulai memancarkan aura yang tidak wajar.

Energi hitam yang kuat terasa menyelimuti tempat tersebut, seolah-olah sesuatu dari dunia lain telah dipanggil untuk hadir.


Setelah ritual mencapai puncaknya, sang dukun menatap sosok misterius di hadapannya. Dengan suara berat dan penuh makna, ia mengajukan satu pertanyaan yang menjadi kunci dari seluruh cerita:

“Apakah kau ingin membangkitkan orang yang sudah mati?”

Pertanyaan itu bukan sekadar kata-kata.

Itu adalah awal dari malapetaka.

Karena sekali pintu antara dunia manusia dan dunia arwah dibuka…
tidak ada yang bisa menjamin semuanya akan kembali seperti semula.




Satu Minggu Sebelumnya: Ratu Bully di Balik Prestasi

Cerita kemudian mundur ke satu minggu sebelum kejadian ritual mengerikan itu terjadi.

Di sebuah SMA ternama, suasana begitu meriah. Sebuah pertandingan bola voli wanita antar sekolah sedang berlangsung. Sorak sorai penonton memenuhi lapangan, menciptakan atmosfer yang penuh semangat dan ketegangan.

Para pemain yang bertanding bukan hanya berbakat, tetapi juga dikenal sebagai siswa-siswi pilihan—berprestasi, populer, dan menjadi kebanggaan sekolah masing-masing.

Pertandingan berlangsung sengit.

Kedua tim saling kejar-mengejar poin tanpa henti, menunjukkan kemampuan terbaik mereka di setiap set. Namun pada akhirnya, kemenangan berhasil diraih oleh tim dari SMA Negeri Harapan Indah.

Di balik kemenangan itu, ada satu sosok yang menjadi pusat perhatian.

Dia adalah Busaba—kapten tim sekaligus libero yang memiliki kemampuan luar biasa di lapangan. Kepemimpinannya tegas, gerakannya cepat, dan strateginya tajam. Tak heran jika ia menjadi andalan tim dan sosok yang disegani.

Namun, di balik prestasinya yang gemilang, Busaba menyimpan sisi lain yang jauh lebih gelap.


Dua Wajah Busaba

Di lapangan, Busaba dikenal sebagai kapten yang disiplin dan keras. Ia menuntut kesempurnaan dari timnya, bahkan tidak segan memarahi rekan sendiri demi kemenangan.

Namun di luar lapangan… sifatnya berubah menjadi jauh lebih mengerikan.


Busaba adalah sosok yang paling ditakuti di sekolah.

Ia kerap:

  • Mencari korban untuk dirundung
  • Memalak teman-temannya tanpa rasa bersalah
  • Mengintimidasi siapa pun yang dianggap lemah

Yang membuatnya semakin berbahaya adalah fakta bahwa ia tidak memilih target.

Baik siswa kaya maupun biasa, semua bisa menjadi korban kekejamannya.

Dengan kata lain, Busaba bukan sekadar siswi populer.

Ia adalah “preman” di lingkungan sekolah—seseorang yang berkuasa melalui rasa takut.





Kehadiran Siswi Baru yang Mengubah Segalanya

Di tengah kekuasaan Busaba yang tak tergoyahkan, suatu hari suasana kelas berubah.

Seorang guru masuk bersama seorang siswi baru pindahan. Perhatian seluruh kelas langsung tertuju padanya.

Namanya adalah Jindahara, atau yang lebih akrab dipanggil Jin.

Kehadirannya terasa berbeda sejak awal—tenang, percaya diri, dan menyimpan aura yang sulit dijelaskan. Tidak butuh waktu lama hingga salah satu siswi di kelas mengenalinya.

Ia adalah Hong, teman lama Jin sejak mereka masih SMP.

Pertemuan kembali mereka terasa hangat, seolah membawa sedikit kenyamanan bagi Jin di lingkungan barunya yang belum ia kenal sepenuhnya.


Bukan Siswi Biasa

Tak lama kemudian, sebuah fakta menarik terungkap.

Jin ternyata bukan siswi biasa.

Di sekolah lamanya, ia juga merupakan kapten tim bola voli—posisi yang sama seperti Busaba.

Hal ini secara tidak langsung mulai menimbulkan ketegangan baru.


Busaba yang terbiasa menjadi pusat kekuatan di sekolah itu mulai merasa terusik. Kehadiran Jin bukan hanya sebagai siswa baru, tetapi juga sebagai sosok yang berpotensi menyaingi dirinya.

Untuk pertama kalinya, Busaba mulai mewaspadai seseorang.


Lingkaran Pertemanan Baru

Jin kemudian duduk bersama Orasa, siswi yang dikenal pendiam dan tertutup.

Namun di balik sikapnya yang tenang, Orasa menyimpan kenyataan pahit—ia adalah salah satu korban tetap perundungan Busaba.

Melalui pertemanan ini, Jin mulai melihat langsung bagaimana kerasnya kehidupan sosial di sekolah tersebut.


Selain Orasa, Hong juga menjadi bagian dari lingkaran kecil mereka. Sebagai teman lama, Hong menjadi penghubung yang membuat Jin lebih cepat beradaptasi.


Perlahan, terbentuklah sebuah kelompok kecil:

  • Jin yang kuat dan misterius
  • Orasa yang lemah namun bertahan
  • Hong yang setia dan selalu ada

Tanpa mereka sadari…

Pertemanan ini akan menjadi pusat dari semua konflik besar yang akan terjadi.



Aksi Perundungan di Kantin: Kekuasaan Tanpa Batas

Suatu hari di kantin sekolah, suasana yang awalnya biasa saja berubah menjadi tidak nyaman.

Busaba kembali menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Tanpa alasan yang jelas, ia melemparkan sisa tulang ayam ke meja tempat Jin, Orasa, dan Hong sedang duduk. Tindakan itu bukan sekadar iseng—melainkan bentuk penghinaan yang sengaja dilakukan untuk menunjukkan kekuasaan.


Belum cukup sampai di situ, Busaba kemudian berkata dengan nada merendahkan bahwa ia baru saja menginjak kotoran anjing.

Tanpa perlu diperintah, Hong langsung memahami maksud tersirat dari ucapan tersebut.

Dengan patuh, ia segera membersihkan sepatu Busaba.

Momen itu begitu mencolok—bukan hanya karena tindakan Busaba yang kasar, tetapi juga karena betapa kuatnya pengaruhnya terhadap orang lain. Ia bahkan tidak perlu memberi perintah secara langsung.


Kharisma yang Berbahaya

Di balik sikapnya yang kejam dan arogan, Busaba memang bukan sosok yang bisa dianggap remeh.

Ia memiliki:

  • Wajah yang menarik
  • Kepintaran akademik
  • Prestasi olahraga yang gemilang

Sebagai atlet voli andalan sekolah, Busaba sering membawa kemenangan dan mengharumkan nama sekolah di berbagai turnamen. Hal ini membuat posisinya semakin kuat.

Inilah alasan utama mengapa pihak sekolah seakan menutup mata terhadap semua perilaku buruknya.

Prestasi telah menjadi tameng.

Kekuasaan telah menjadi kebiasaan.

Dan rasa takut telah menjadi alat kendalinya.


Pandangan Jin: Antara Kagum dan Waspada

Jin yang menyaksikan kejadian itu tidak bisa menyembunyikan reaksinya.

Di satu sisi, ia merasa terganggu dan tidak setuju dengan perlakuan Busaba.

Namun di sisi lain…

Ia juga melihat sesuatu yang tidak bisa diabaikan.

Pengaruh. Kekuasaan. Dominasi.

Busaba bukan sekadar pembully biasa. Ia adalah sosok yang mampu mengendalikan lingkungan sekitarnya, membuat orang lain tunduk tanpa perlawanan.

Hal itu, secara tidak langsung, membuat Jin merasa tertarik—bukan dalam arti kagum sepenuhnya, tetapi lebih kepada rasa penasaran.

Siapa sebenarnya Busaba?

Dan bagaimana seseorang bisa memiliki kekuasaan sebesar itu di lingkungan sekolah?.


.

Ketegangan di Lapangan: Saat Jin Menantang Kekuasaan Busaba

Dalam sebuah sesi latihan voli di lapangan sekolah, suasana yang seharusnya penuh semangat justru berubah menjadi ajang intimidasi. Busaba, sosok yang dikenal dominan dan gemar mencari masalah, kembali membuat keributan seperti biasanya. Bagi sebagian orang di tim, perilaku Busaba sudah seperti “ritual wajib” yang selalu terjadi setiap latihan.

Kali ini, targetnya adalah Yah.

Yah sebenarnya bukan orang sembarangan. Ia dikenal sebagai anak dari keluarga kaya raya. Namun, status sosial itu sama sekali tidak membuatnya kebal dari perlakuan Busaba. Justru sebaliknya, Busaba memanfaatkan hal tersebut sebagai alasan untuk menekan dan mempermalukannya.

Masalah bermula dari uang yang belum ditransfer Yah kepada Busaba. Entah untuk alasan apa, Busaba menjadikan hal itu sebagai dalih untuk memberikan “hukuman”. Yah dipaksa berdiri di lapangan dan menerima smash bola keras dari Busaba—sebuah tindakan yang jelas berbahaya dan tidak manusiawi.

Situasi menjadi semakin tidak nyaman. Yah yang terpojok tidak mampu melawan. Sementara itu, anggota tim lain hanya bisa menyaksikan dengan perasaan campur aduk—takut, kesal, namun juga tak berdaya.

Namun, keadaan mulai berubah saat Jin datang.

Jin yang baru tiba di lapangan langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa ragu, ia melangkah maju dan menghadang smash keras dari Busaba. Tindakannya sontak mengejutkan semua orang, termasuk Busaba sendiri.

Dengan tatapan tegas, Jin menantang Busaba secara langsung.

Ia mengajukan sebuah kesepakatan: jika ia kalah dalam adu smash melawan Busaba, maka ia bersedia menggantikan posisi Yah dan menerima hukuman tersebut. Namun, jika Busaba yang kalah, maka semua tindakan intimidasi ini harus dihentikan.

Busaba yang belum mengetahui kemampuan Jin dalam bermain voli menerima tantangan itu dengan penuh percaya diri. Baginya, ini hanyalah kesempatan untuk kembali menunjukkan dominasinya di depan semua orang.

Pertarungan pun dimulai.

Busaba melancarkan smash keras seperti biasanya, penuh tenaga dan amarah. Namun kali ini berbeda. Jin mampu membaca arah bola dengan tepat dan mengembalikannya dengan kekuatan yang bahkan lebih besar.

Smash dari Jin meluncur cepat dan menghantam Busaba tanpa sempat diantisipasi.

Lapangan seketika terdiam.

Busaba, yang selama ini selalu berada di posisi unggul, akhirnya merasakan sendiri akibat dari tindakannya. Ia terkena “balasan” yang setimpal. Untuk pertama kalinya, posisinya sebagai sosok yang ditakuti mulai goyah.

Rasa malu dan harga diri yang terluka membuat Busaba naik pitam. Amarahnya memuncak, dan situasi hampir berubah menjadi perkelahian fisik di tengah lapangan.


Beruntung, pelatih segera turun tangan.

Dengan sigap, pelatih melerai keduanya sebelum keadaan semakin memburuk. Ketegangan yang sempat memuncak akhirnya mereda, meskipun suasana masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya hilang.

Momen ini menjadi titik balik penting.

Bukan hanya bagi Yah yang akhirnya terbebas dari intimidasi, tetapi juga bagi seluruh tim yang mulai melihat bahwa dominasi Busaba bukanlah sesuatu yang tidak bisa dilawan. Kehadiran Jin membawa perubahan—sebuah keberanian untuk berdiri melawan ketidakadilan.

Dan sejak saat itu, dinamika di lapangan tak lagi sama.

.

Persahabatan Baru dan Misteri di Balik Sosok Busaba

Sejak kejadian tersebut, hubungan antara Jin, Yah, Orasa, dan Hong mulai berubah. Mereka yang sebelumnya hanya sekadar rekan satu sekolah, kini menjadi jauh lebih dekat. Rasa kebersamaan tumbuh dari pengalaman yang sama—melihat dan merasakan ketidakadilan yang dilakukan oleh Busaba.

Perlahan, mereka membentuk sebuah lingkaran pertemanan yang solid.

Di SMA tersebut, terdapat sebuah fasilitas asrama yang bisa disewa oleh para siswa. Banyak siswa memilih tinggal di sana untuk lebih dekat dengan lingkungan sekolah, termasuk beberapa dari mereka. Asrama ini kemudian menjadi tempat di mana mereka sering berkumpul, berbagi cerita, dan mempererat hubungan.

Di sinilah, untuk pertama kalinya, masa lalu Jin mulai terungkap.

Dalam sebuah obrolan santai, Jin menceritakan bahwa dirinya bukanlah sosok pemberani sejak awal. Saat masih duduk di bangku SMP, ia justru sering menjadi korban perundungan. Ia memilih diam, menahan, dan menghindar—hingga akhirnya semua itu mencapai titik batas.

Suatu hari, Jin memutuskan untuk melawan.

Keputusan itu mengubah segalanya. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mengganggunya. Pengalaman pahit tersebutlah yang membentuk Jin menjadi sosok yang sekarang—tenang, namun tegas ketika menghadapi ketidakadilan.

Cerita itu membuat suasana menjadi hening sejenak.

Orasa kemudian memecah keheningan dengan sebuah pernyataan yang cukup berani. Ia mengatakan bahwa dengan adanya Jin di antara mereka, kini mereka punya kesempatan untuk melawan Busaba. Selama ini, tidak ada yang berani menghadapi Busaba secara langsung. Semua hanya diam dan menerima.

“Kalau tidak ada yang melawan, dia tidak akan pernah berhenti,” kira-kira itulah maksud dari ucapan Orasa.

Namun, respons Jin di luar dugaan.

Alih-alih langsung menyetujui atau menunjukkan semangat perlawanan, Jin justru terdiam. Wajahnya tampak berpikir, seolah ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Bukannya membahas rencana menghadapi Busaba, Jin malah mengajukan pertanyaan yang berbeda.

Ia ingin tahu siapa sebenarnya Busaba.

Pertanyaan itu mengubah arah pembicaraan.

Yah kemudian mulai menceritakan sesuatu yang selama ini hanya beredar sebagai rumor di sekolah. Ia menjelaskan bahwa Busaba sebenarnya tidak selalu seperti sekarang. Dulu, ia dikenal sebagai siswa yang biasa saja—bahkan mungkin tidak terlalu menonjol dalam hal sikap.

Namun, semuanya berubah setelah ia mengambil cuti sekolah selama satu tahun.

Ketika Busaba kembali, sikapnya sudah berbeda jauh. Ia menjadi lebih kasar, dominan, dan cenderung menindas orang lain. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi selama masa cutinya, tetapi rumor yang beredar cukup mengejutkan.

Konon, Busaba sempat hamil.

Lebih jauh lagi, beredar kabar bahwa ia menghilangkan bayinya—sebuah rumor yang tidak pernah benar-benar dikonfirmasi kebenarannya, namun cukup kuat untuk memengaruhi cara orang memandangnya.

Cerita itu membuat suasana kembali tegang.

Pertanyaan berikutnya pun muncul secara alami: apakah pihak sekolah mengetahui hal tersebut?

Jawabannya, ya.

Pihak sekolah sebenarnya mengetahui situasi yang terjadi pada Busaba. Namun, ada satu alasan yang membuat mereka tetap mempertahankannya sebagai siswa—Busaba adalah murid yang sangat pintar. Prestasinya menjadi pertimbangan besar bagi sekolah untuk tidak mengambil tindakan tegas.

Keputusan itu, secara tidak langsung, memberi ruang bagi Busaba untuk terus bertindak semena-mena.

Percakapan malam itu menyisakan banyak pertanyaan di benak mereka.

Apakah Busaba benar-benar hanya seorang pelaku perundungan?
Ataukah ada luka di masa lalu yang membentuknya menjadi seperti sekarang?

Dan yang lebih penting—apakah melawan adalah satu-satunya cara untuk menghentikannya?

Sementara yang lain masih sibuk dengan berbagai kemungkinan, Jin hanya terdiam.

Tatapannya menunjukkan bahwa ia tidak hanya melihat Busaba sebagai musuh… tetapi sebagai seseorang yang mungkin menyimpan cerita yang jauh lebih kompleks.


.


Pertemuan Tak Terduga dan Awal Konflik Baru

Setelah malam penuh percakapan tentang masa lalu dan misteri Busaba, kehidupan di sekolah perlahan kembali berjalan seperti biasa. Namun, tanpa mereka sadari, benang-benang konflik baru mulai terajut secara perlahan.

Suatu hari, sebuah adegan sederhana justru menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.

Jin terlihat sedang berada di toilet sekolah. Ia sibuk membersihkan rok seragamnya yang terkena tumpahan air. Gerakannya tenang, berusaha menghilangkan noda sambil tetap menjaga penampilannya.

Namun, tanpa ia sadari, ada seseorang yang memperhatikannya.

Di belakangnya, beberapa siswa tengah mengantre. Di antara mereka, ada seorang siswa laki-laki yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari Jin. Wajah Jin yang cantik, kulitnya yang putih bersih, serta aura tenang yang ia miliki, membuat siapa pun yang melihatnya sulit untuk tidak terpesona.

Tatapan itu bukan sekadar melihat—melainkan mulai menyimpan rasa.

Dan di momen itulah, benih-benih perasaan mulai tumbuh.


Sosok pria tersebut adalah Gun.

Seorang siswa tampan yang dikenal cukup populer di sekolah. Karismanya membuat banyak orang mengenalnya, dan kehadirannya sering kali menjadi pusat perhatian.

Namun, ada satu hal penting yang tidak bisa diabaikan.

Gun sudah memiliki pacar.

Dan pacarnya adalah Busaba.

Situasi ini jelas menjadi rumit. Tanpa kata-kata, tanpa pengakuan, sebuah hubungan yang kompleks mulai terbentuk. Tatapan singkat di toilet itu menjadi awal dari dinamika yang berpotensi mengguncang semuanya.


Tidak lama setelah itu, sebuah pertemuan lain terjadi—kali ini antara Jin dan Busaba.

Dalam satu kesempatan, Busaba secara langsung mengajak Jin untuk berbicara. Suasananya tidak seperti biasanya. Tidak ada nada intimidasi, tidak ada aura mengancam seperti yang selama ini ia tunjukkan.

Sebaliknya, Busaba tampak lebih tenang.

Ia mulai menjelaskan bahwa sejak insiden di lapangan voli beberapa waktu lalu, dirinya mendapat sanksi dari guru olahraga. Peringatan itu bukan hal sepele. Jika ia kembali membuat masalah di sekolah, maka konsekuensinya sangat besar—ia bisa kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dengan kata lain, masa depannya dipertaruhkan.

Hal itu membuat Busaba mengambil keputusan yang tidak terduga.


Ia ingin berdamai.

Dengan nada yang lebih lembut dari biasanya, Busaba menyampaikan niatnya kepada Jin. Ia tidak ingin ada lagi perselisihan di antara mereka. Ia ingin mengakhiri konflik yang sempat terjadi.

Bagi banyak orang, ini mungkin terdengar seperti sesuatu yang mustahil.

Namun, bagi Jin, ini adalah kesempatan.


Tanpa ragu, Jin menyambut niat baik tersebut dengan sikap terbuka. Ia tidak menunjukkan rasa dendam atau keinginan untuk membalas. Sebaliknya, ia menerima ajakan damai itu dengan tulus.

Bagi Jin, mungkin inilah cara terbaik untuk menghentikan siklus konflik.

Namun, di balik perdamaian yang terlihat sederhana itu, tersimpan banyak hal yang belum terungkap.

Perasaan Gun yang mulai tumbuh.
Masa lalu Busaba yang masih menjadi misteri.
Dan dinamika hubungan yang semakin kompleks.

Semua itu perlahan bergerak menuju sesuatu yang lebih besar.

Karena terkadang, sebuah perdamaian bukanlah akhir dari konflik…
melainkan awal dari cerita yang jauh lebih rumit.




Pengkhianatan, Amarah, dan Akhir Tragis Busaba

Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Jin dan Gun mulai berkembang secara diam-diam.

Awalnya hanya sekadar saling bertukar pesan di media sosial, namun intensitas komunikasi mereka semakin meningkat. Percakapan demi percakapan membuat keduanya semakin dekat. Tanpa disadari, Jin mulai menaruh perasaan kepada Gun.

Dan perasaan itu tidak bertepuk sebelah tangan.

Gun pun menunjukkan ketertarikannya. Bahkan, hubungan mereka mulai melewati batas wajar. Jin, yang larut dalam perasaannya, sempat mengirimkan foto yang cukup berani kepada Gun—sebuah tanda bahwa ia benar-benar membuka diri.

Hingga akhirnya, Gun mengajak Jin untuk bertemu secara langsung.

Kesempatan Jin untuk mendapatkan hati Gun terasa semakin terbuka lebar, terutama setelah ia secara tidak sengaja melihat Busaba pergi bersama pelatih voli. Pemandangan itu menimbulkan tanda tanya besar di benaknya—dan sekaligus memberi harapan bahwa hubungan Busaba dan Gun mungkin tidak sekuat yang terlihat.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru jauh lebih gelap dari yang dibayangkan.


Keesokan harinya, Busaba kembali mendatangi Jin. Kali ini, ia meminta bantuan dengan nada yang tampak biasa saja. Ia meminta Jin untuk mengantarkannya ke suatu tempat, dengan alasan akan menemui siswa yang ingin les privat dengannya.

Tanpa rasa curiga, Jin menyanggupi.

Namun, keputusan itu menjadi awal dari mimpi buruk.


Sesampainya di lokasi, Jin mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Tempat itu jauh dari kesan tempat les. Kecurigaannya terbukti benar—ia justru dibawa ke sebuah tempat yang dihuni oleh pria-pria tua dengan niat buruk.

Di titik itulah kenyataan yang kejam terungkap.

Busaba telah menjual Jin.


Sebuah pengkhianatan yang tidak hanya menyakitkan, tetapi juga mengancam keselamatan. Dengan keberanian dan kepanikan yang bercampur menjadi satu, Jin berusaha melarikan diri. Beruntung, ia berhasil kabur dari situasi mengerikan tersebut.

Namun, luka batin yang ditinggalkan tidak mudah hilang.


Dipenuhi amarah dan rasa dikhianati, Jin langsung melabrak Busaba di sekolah. Ia menuntut penjelasan dan keadilan atas apa yang telah terjadi.

Sayangnya, kenyataan tidak berpihak padanya.


Jin tidak memiliki bukti.

Lebih buruk lagi, situasi justru berbalik. Tindakannya saat marah direkam oleh siswa lain, membuatnya terlihat sebagai pihak yang agresif. Busaba kembali lolos, seolah tidak tersentuh.


Rasa marah dalam diri Jin pun berubah menjadi tekad.

Ia tidak lagi ingin sekadar melawan secara langsung. Kali ini, ia memilih cara lain—cara yang lebih personal.

Ia akan merebut Gun dari Busaba.

Rencana itu mulai dijalankan. Jin dan Gun sepakat untuk bertemu, seolah menjadi langkah awal dari hubungan mereka yang sebenarnya.

Namun, rencana itu tidak berjalan mulus.


Busaba mulai mencurigai perubahan sikap Gun. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres—dan kecurigaannya benar.

Pertengkaran pun tak terelakkan.

Dalam emosi yang memuncak, Gun akhirnya mengatakan yang sebenarnya. Ia mengakui bahwa ada wanita lain yang sedang ia dekati. Pengakuan itu menjadi pukulan telak bagi Busaba.

Tanpa banyak kata, Gun memilih pergi, meninggalkan Busaba sendirian.

Namun, dalam keadaan emosional yang tidak stabil, sebuah tragedi terjadi.

Gun menyadari ponselnya tertinggal dan kembali untuk mengambilnya. Tapi saat ia kembali, sesuatu yang mengerikan terjadi.


Dari arah belakang, Busaba menyerangnya.

Dengan tindakan nekat dan penuh amarah, Busaba menikam Gun.


Saat itu, ia sudah kehilangan kendali. Emosi, rasa cemburu, dan luka batin bercampur menjadi satu, menutupi akal sehatnya sepenuhnya.

Kejadian tersebut mengguncang semuanya.


Pihak sekolah yang sebelumnya selalu “menutup mata”, akhirnya tidak bisa lagi mengabaikan kenyataan. Dengan berat hati, Busaba resmi dikeluarkan dari sekolah.

Bagi Busaba, ini adalah titik terendah dalam hidupnya.

Semua yang ia miliki—status, masa depan, bahkan kendali atas hidupnya—perlahan runtuh.

Namun, tragedi belum berakhir.


Beberapa waktu kemudian, sekolah kembali digemparkan oleh kabar yang lebih mengejutkan.

Busaba ditemukan telah meninggal dunia.

Ia mengakhiri hidupnya sendiri.

Sebuah akhir yang tragis bagi seseorang yang selama ini dikenal kuat, dominan, dan menakutkan. Di balik semua itu, ternyata ia menyimpan luka yang begitu dalam.



Teror yang Dimulai dari Kematian

Kematian Busaba meninggalkan luka yang tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang-orang di sekitarnya. Meski penuh konflik semasa hidupnya, kepergiannya tetap menjadi momen yang mengundang duka.

Jin bersama Yah, Orasa, dan Hong memutuskan untuk datang ke مراسم pemakaman. Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir—bukan hanya sebagai bentuk simpati, tetapi juga sebagai penutup dari semua konflik yang pernah terjadi.

Suasana pemakaman terasa khidmat.

Doa dipanjatkan, para pelayat terdiam, dan udara dipenuhi perasaan campur aduk antara sedih, takut, dan penyesalan. Namun, di tengah suasana tersebut, sesuatu yang aneh mulai terjadi.


Yah tiba-tiba merasa tidak enak badan.

Wajahnya pucat, tubuhnya melemah, seolah ada sesuatu yang mengganggu dirinya. Melihat kondisi itu, Hong segera mengambil keputusan untuk mengantarkan Yah pulang ke asrama.

Akhirnya, hanya Jin dan Orasa yang tetap berada di lokasi pemakaman.

Namun, tanpa mereka sadari, sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi… di tempat lain.


Di sebuah gedung lapangan basket—tempat di mana Busaba mengakhiri hidupnya—terlihat seseorang sedang melakukan ritual aneh. Gerakannya tidak biasa, suasananya gelap, dan aura di sekitarnya terasa mencekam.

Seolah-olah, ada sesuatu yang sedang dipanggil.

Kembali ke lokasi pemakaman, prosesi doa masih berlangsung, dipimpin oleh para biksu. Awalnya semua berjalan normal, hingga tiba-tiba—

Terdengar suara tangisan.

Suara itu lirih, namun jelas. Tangisan seorang perempuan yang penuh kesedihan… sekaligus kemarahan. Suara itu tidak diketahui berasal dari mana, tetapi cukup untuk membuat semua orang merinding.

Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi mencekam.

Angin tiba-tiba berhembus kencang, bahkan berubah menjadi seperti badai kecil. Lampu-lampu mendadak padam, membuat area pemakaman diliputi kegelapan.

Kekacauan pun tak terhindarkan.

Orang-orang mulai panik, sebagian berlarian, sebagian lainnya berusaha tetap bertahan. Dalam situasi tersebut, Jin terdorong oleh kerumunan hingga terjatuh ke tanah.

Dan di saat itulah… sesuatu yang mengerikan terjadi.

Peti jenazah Busaba tiba-tiba terjatuh.

Dengan suara keras, peti itu terbuka tepat di hadapan Jin.

Jantungnya seakan berhenti sejenak.

Pemandangan itu terlalu mengejutkan untuk diterima akal sehat. Seolah-olah, kematian Busaba belum benar-benar mengakhiri segalanya.

Malam itu menjadi awal dari ketakutan baru.


Ketakutan yang Belum Berakhir

Kembali ke asrama, suasana masih dipenuhi kegelisahan.

Jin tidak bisa melupakan kejadian di pemakaman. Bayangan peti yang terbuka, suara tangisan misterius, dan suasana mencekam terus terngiang di pikirannya.

Ia mencoba mencari penjelasan.

Namun, tidak ada yang benar-benar masuk akal.

Bersama Yah, Orasa, dan Hong, mereka mencoba saling menenangkan. Mereka meyakinkan satu sama lain bahwa semua yang terjadi mungkin hanya kebetulan—atau efek dari emosi yang masih belum stabil setelah kematian Busaba.

Mereka mencoba berpikir logis.

Mencoba percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, jauh di dalam hati mereka… ada rasa takut yang tidak bisa diabaikan.

Perasaan bahwa semua ini belum selesai.

Bahwa sesuatu mungkin telah ikut “bangkit” bersama kematian Busaba.




Teror Mimpi Buruk yang Menghantui Orasa

ketika semua orang terlelap dalam tidur yang nyenyak, sesuatu yang aneh mulai terjadi.

Orasa tiba-tiba terbangun di tengah malam. Suasana terasa berbeda—hening, namun menekan. Dalam kondisi setengah sadar, matanya tertuju pada sebuah kursi di dalam ruangan.


Tanpa sebab yang jelas… kursi itu bergerak sendiri.

Awalnya, Orasa mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya halusinasi akibat kelelahan. Namun semakin lama ia memperhatikan, pergerakan kursi itu terasa semakin nyata. Rasa takut perlahan berubah menjadi kepanikan.

Dengan napas yang mulai tak teratur, Orasa segera mencoba membangunkan Jin yang berada di dekatnya. Ia berharap ada seseorang yang bisa memastikan bahwa semua ini tidak nyata.

Namun sayangnya, Jin terlalu lelah dan tidak merespons sama sekali.

Di saat itulah, suasana berubah menjadi jauh lebih mencekam.

Sosok mengerikan bernama Rogentangan Busaba tiba-tiba muncul… tepat di atas tubuh Orasa.

Makhluk itu seolah menindihnya, membuat Orasa tidak bisa bergerak. Tubuhnya kaku, napasnya tertahan, dan rasa takut kini berubah menjadi teror yang nyata.

Dalam kepanikan itu, Orasa berusaha melawan. Ia mencoba berteriak, namun suaranya seolah terperangkap di dalam tenggorokan.

Beruntung, kegaduhan yang terjadi membuat teman-temannya sempat terbangun. Mereka segera menghampiri Orasa dan mencoba menyadarkannya dari kondisi tersebut.

Setelah beberapa saat, Orasa akhirnya tersadar.

Teman-temannya berusaha menenangkannya, meyakinkan bahwa semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk biasa. Dengan penuh rasa ragu, Orasa mencoba mempercayai hal itu.

Mereka pun kembali melanjutkan tidur.

Namun… teror itu belum berakhir.

Berbeda dengan yang lain, Orasa justru kembali terjebak dalam mimpi.

Dan kali ini, mimpinya terasa jauh lebih nyata.

Ia mendapati dirinya berada di atas sebuah tembok yang tinggi. Tubuhnya dalam posisi menggantung, seolah berada di ambang jatuh. Ia mencoba berteriak meminta pertolongan, namun lagi-lagi suaranya tidak keluar.

Mulutnya terasa terkunci.

Dalam kepanikan yang semakin memuncak, sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.

Dari kegelapan, muncul seutas tali yang perlahan merayap… mendekat ke arah lehernya.

Tanpa bisa menghindar, tali itu mulai melilit leher Orasa.

Semakin lama, lilitannya semakin kencang.

Orasa berontak sekuat tenaga. Ia berusaha melepaskan diri, namun tubuhnya seperti kehilangan kendali. Rasa sesak mulai menghantui, dan ketakutan kini mencapai puncaknya.

Ini bukan sekadar mimpi buruk biasa.




Teror Ilmu Hitam dan Kutukan 3 Hari 

Keesokan harinya, suasana di sekolah mendadak gempar.

Para siswa dikejutkan dengan penemuan bekas sesajen di lapangan olahraga. Benda-benda ritual itu tersusun dengan cara yang tidak biasa, seolah baru saja digunakan untuk suatu upacara misterius.

Jin bersama teman-temannya segera mendatangi lokasi tersebut. Perasaan tidak enak mulai menghantui mereka, terutama setelah kejadian mengerikan yang dialami Orasa sebelumnya.

Untuk mencari penjelasan, mereka kemudian bertanya kepada seorang bibi tukang sapu yang sudah lama bekerja di sekolah itu.

Dengan wajah serius, si bibi menjelaskan bahwa sesajen tersebut bukanlah hal biasa.

“Itu bekas ritual pemanggilan arwah,” ujarnya pelan.

Dari cara susunannya, ia bahkan bisa memastikan bahwa ritual itu adalah bagian dari praktik ilmu hitam. Lebih mengerikan lagi, tujuan dari pemanggilan arwah tersebut adalah untuk balas dendam.

Mendengar penjelasan itu, suasana langsung berubah tegang.


Si bibi kemudian mengungkapkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Menurutnya, arwah yang dipanggil melalui ritual seperti ini akan mulai bekerja dalam kurun waktu tiga hari.

  • Hari pertama, arwah akan meneror korbannya melalui penampakan.
  • Hari kedua, gangguan akan semakin intens dan brutal.
  • Hari ketiga, adalah akhir dari semuanya—di mana arwah tersebut akan membunuh korbannya tanpa ada jalan untuk selamat.

Penjelasan itu membuat semua yang mendengar langsung diliputi ketakutan.

Dan benar saja…

Teror itu ternyata sudah dimulai hari itu juga.

Satu per satu dari mereka mulai mengalami kejadian aneh. Sosok Bu Saba—arwah yang diyakini sebagai dalang dari semua ini—mulai menampakkan diri.

Beberapa dari mereka melihat sosok mengerikan itu dalam wujud yang tidak utuh.

Ada yang melihatnya… tergantung di atas.

Namun yang paling mengerikan, sosok itu kemudian turun perlahan—tanpa kepala—dan mendekati korbannya.

Orang-orang di sekitar hanya bisa kebingungan melihat reaksi ketakutan yang dialami mereka. Karena pada kenyataannya, penampakan itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang menjadi target.

Ketegangan semakin meningkat.

Sesuai dengan penjelasan si bibi, arwah tersebut memang hanya akan menampakkan diri kepada orang yang dituju.


Tak lama setelah itu, mereka berkumpul di kamar mandi sekolah bersama si bibi. Namun situasi justru semakin tidak terkendali.

Tiba-tiba, lampu kamar mandi padam.

Suasana berubah gelap gulita.

Dalam kegelapan itu, si bibi mulai bertingkah aneh. Tatapannya kosong, gerakannya tidak terkendali… dan tanpa peringatan, ia menyerang mereka.

Kepanikan pun pecah.

Beruntung, Gun datang tepat waktu dan berhasil membuka pintu kamar mandi yang terkunci dari luar. Serangan itu pun terhenti.

Beberapa saat kemudian, si bibi tersadar seperti tidak terjadi apa-apa. Namun kondisinya sudah sangat lemah, sehingga ia segera dilarikan ke rumah sakit.

Di tengah kekacauan itu, Gun akhirnya mengungkapkan sesuatu.

Ia ternyata sudah mengetahui tentang semua teror ini.

Bahkan, ia sendiri juga mengalami gangguan dari arwah Bu Saba.


Menyadari bahwa situasi ini tidak bisa dianggap remeh, Gun kemudian membawa mereka semua menemui seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan spiritual—seorang master atau cenayang.

Di tempat itulah, mereka mendapatkan kebenaran yang jauh lebih mengerikan.

Sang master menjelaskan bahwa arwah yang mereka hadapi bukanlah arwah biasa. Ini adalah arwah penuh dendam, dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.


Untuk menghadapinya, sang master meminta asistennya mengambil sebuah benda suci yang diyakini bisa membantu melawan kekuatan tersebut.

Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.


Secara tiba-tiba, sang master diserang oleh arwah Bu Saba.

Dalam kondisi kerasukan, ia justru menusukkan benda suci itu ke tubuhnya sendiri.

Semua orang terkejut.

Meski terluka parah, sang master berhasil melawan pengaruh tersebut dan kembali mengendalikan dirinya


.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia memberikan satu-satunya cara untuk menghentikan kutukan ini.

Mereka harus menemukan dukun yang melakukan ritual tersebut.

Dan ada dua pilihan:

  • Menyiramnya dengan air najis khusus
  • Atau membunuh dukun tersebut


Hanya dengan cara itulah arwah Bu Saba bisa dihentikan.

Namun waktu mereka sangat terbatas.

Semua itu harus dilakukan sebelum hari ketiga berakhir.

Jika gagal…

Maka tidak ada satu pun dari mereka yang akan selamat.

Sebelum mereka pergi, asisten sang master memberikan sebuah botol berisi air najis. Air itu ternyata berasal dari sesuatu yang sangat tidak biasa—air kencing perawan yang telah diberkati secara ritual.

Dengan harapan yang tersisa, mereka pun kembali berkumpul di asrama.

Malam itu, mereka sadar…

Ini bukan lagi sekadar teror.

Ini adalah perburuan mematikan yang sudah dimulai.



Rahasia Kematian Bu Saba dan Teror yang Sebenarnya

Malam itu, mereka semua berkumpul di asrama dengan perasaan campur aduk—takut, bingung, dan saling curiga.

Pertanyaan terbesar mulai muncul:

Siapa sebenarnya yang membangkitkan arwah Bu Saba?

Kecurigaan pun mulai menyebar. Mereka sempat saling tuduh satu sama lain. Hong dan Ya menjadi yang pertama dicurigai, karena pada hari pemakaman Bu Saba, mereka berdua tidak hadir.

Namun keduanya membantah.

Kecurigaan kemudian beralih… kepada sosok yang jauh lebih masuk akal—ayah Bu Saba dan juga pelatih voli sekolah.

Alasannya jelas: mereka juga tidak terlihat di pemakaman.

Gun kemudian menceritakan masa lalu kelam Bu Saba. Ternyata, kehidupan Bu Saba sangat menyedihkan. Ayahnya dikenal sebagai pemabuk berat dan sering melakukan kekerasan terhadapnya.

Tak hanya itu… ayahnya juga diketahui mempelajari ilmu hitam.

Hal itulah yang membuat mereka semakin yakin—bahwa kemungkinan besar ayahnya sendirilah yang membangkitkan arwah Bu Saba.

Tanpa membuang waktu, mereka sepakat untuk mencari ayahnya.


Teror Semakin Nyata

Namun sebelum rencana itu terlaksana, kejadian mengerikan kembali terjadi.

Saat ujian berlangsung di kelas, suasana tiba-tiba kacau.

Arwah Bu Saba muncul… ikut ujian.

Ia bahkan mendatangi guru, seolah ingin menunjukkan keberadaannya secara terang-terangan.


Kepanikan pun tak terhindarkan.

Semua siswa kemudian dikumpulkan di gedung olahraga. Di sana, kebetulan ada pelatih voli—orang yang juga dicurigai.

Jin dan Gun langsung menginterogasinya.


Awalnya, pelatih itu kebingungan dan menyangkal. Namun tiba-tiba… ia kerasukan.

Dengan suara yang bukan miliknya, arwah Bu Saba mengungkap kebenaran yang mengejutkan.

Ternyata selama ini, ia memiliki hubungan gelap dengan pelatih tersebut.

Bukan karena cinta.

Melainkan hubungan transaksional.

Bu Saba membutuhkan biaya untuk melanjutkan pendidikan, sementara sang pelatih memanfaatkan kondisi itu dengan syarat yang menjijikkan.

Lebih parah lagi…

Kepala sekolah juga terlibat dalam hubungan kotor tersebut.

Dalam kondisi kerasukan, arwah Bu Saba mempermalukan pelatih itu di depan semua orang.

Tak lama kemudian, ia menghilang… kembali dalam wujud mengerikan, tergantung tanpa nyawa.




Menghadapi Ayah Bu Saba

Kini, harapan terakhir mereka hanyalah ayah Bu Saba.

Mereka pun nekat mendatangi rumahnya.


Begitu masuk, mereka menemukan banyak sesajen dan perlengkapan ritual ilmu hitam. Di sana juga terpajang foto Bu Saba saat kecil—membuat kecurigaan mereka semakin kuat.

Tanpa ragu, mereka menghancurkan tempat ritual itu.


Namun tiba-tiba, ayah Bu Saba datang dan langsung menyerang mereka.


Saat tubuhnya disiram dengan air najis, reaksinya sangat kuat. Ia berusaha kabur, seolah tidak tahan dengan cairan tersebut.

Mereka pun mengejarnya.


Di tengah kekacauan itu, Hong tiba-tiba muncul membawa sebuah boneka yang ia temukan di rumah tersebut.

Ia mengatakan bahwa boneka itu adalah wadah arwah Bu Saba.


Tanpa banyak berpikir, mereka langsung menyiram boneka itu dengan air najis.

Dan efeknya… langsung terasa.


Ayah Bu Saba terjatuh, lalu tubuhnya tertusuk pagar besi hingga tewas mengenaskan.



Harapan yang Ternyata Palsu

Mereka mulai berpikir semuanya telah berakhir.

Jika benar ayahnya adalah pelaku, maka kutukan seharusnya sudah berhenti.

Namun mereka harus menunggu hingga tengah malam sebagai penentuan akhir.

Jin dan Gun kemudian menemui sang master untuk memastikan semuanya. Sang master mengatakan bahwa mereka telah melakukan hal yang luar biasa.


Ia bahkan meminta mereka untuk berdoa di kuil agar arwah Bu Saba bisa tenang.

Harapan mulai muncul.

Namun… semuanya berubah dalam hitungan menit.


Kebenaran yang Terungkap

Saat kembali dari kuil, Jin menemukan sebuah benda yang familiar di pedagang kaki lima.

Benda itu sama seperti yang ditemukan Hong sebelumnya.

Namun ternyata…

Itu bukan boneka arwah.


Melainkan jimat pelindung dari roh jahat.

Saat itulah Jin sadar.

Hong telah berbohong.

Dengan panik, Jin melihat jam.


Waktu menunjukkan pukul 23:58.

Hanya tersisa dua menit sebelum hari ketiga berakhir.

Dan di saat yang bersamaan…


Sang master tewas diserang arwah Bu Saba.


Gun yang berada di dalam mobil menjadi korban berikutnya. Ia terjebak dan akhirnya tewas secara tragis.

Teror masih berlanjut.

Dan kini, semuanya mengarah pada satu orang:

Hong.



Plot Twist: Rahasia Kematian Bu Saba

Jin akhirnya mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan.

Hong adalah dalang di balik semua ini.

Ia bekerja sama dengan dukun untuk membangkitkan arwah Bu Saba.

Namun alasannya… jauh lebih gila.

Hong mencintai Bu Saba.

Meski selama hidupnya ia sering dirundung oleh Bu Saba, Hong justru memiliki ketertarikan aneh terhadap orang yang menyakitinya.

Dan yang lebih mengejutkan lagi…

Bu Saba ternyata tidak bunuh diri.

Ia dibunuh.


Flashback: Dosa yang Disembunyikan

scene kembali ke Beberapa hari sebelum kematian Bu Saba 

Bu Saba mengetahui hubungan rahasia antara Jin dan Gun.


Ia marah besar dan terjadi pertengkaran hebat.

Dalam konflik itu, Bu Saba mencoba menyerang Jin.

Mereka berusaha menahannya.

Namun tanpa sengaja… dorongan mereka membuat Bu Saba terjatuh dan kepalanya terbentur besi.

Ia tewas seketika.

Dalam kepanikan, mereka memutuskan untuk menutupinya.


Mereka merekayasa semuanya agar terlihat seperti bunuh diri.

Dan rahasia itulah yang kini menuntut balas.




Ending: Teror yang Belum Berakhir

Kembali ke masa sekarang, Hong dan Jin akhirnya berhadapan.

Pertarungan pun terjadi.

Hong menggunakan pusaka dari dukun, sementara Jin menggunakan senjata suci dari master.

Namun dalam pertarungan itu, Jin kalah.


Seekor makhluk menyerupai kelabang masuk ke dalam tubuhnya…

dan segalanya berubah.


Ending Film: Jiwa yang Bertukar dan Cinta yang Menyimpang

Setelah semua kekacauan dan teror yang terjadi, keadaan perlahan mulai terlihat tenang.

Beberapa waktu kemudian, situasi kembali normal.


Jin masih hidup.

Begitu juga dengan Hong.


Sekilas, semuanya tampak seperti telah berakhir…

Namun kenyataannya, mimpi buruk itu belum benar-benar selesai.

Tanpa disadari, sesuatu yang jauh lebih mengerikan telah terjadi.

Jiwa Bu Saba kini berada di dalam tubuh Jin.

Tubuh Jin memang masih berdiri, bernapas, dan terlihat sama seperti sebelumnya. Tapi kepribadiannya telah berubah sepenuhnya.

Tatapan matanya menjadi tajam.

Sikapnya berubah menjadi kasar, dominan, dan penuh tekanan—persis seperti Bu Saba saat masih hidup.

Tak ada lagi Jin yang dulu.

Yang tersisa hanyalah raga kosong… yang kini dihuni oleh arwah penuh dendam.

Dan di saat itulah, terungkap satu hal yang paling mengganggu.

Hong tidak merasa takut.

Sebaliknya…

Ia justru terlihat bahagia.

Dengan senyum tipis di wajahnya, Hong menatap Jin—atau lebih tepatnya, Bu Saba yang kini hidup kembali dalam tubuh Jin.

Karena bagi Hong, inilah yang ia inginkan sejak awal.

Ia tidak peduli bagaimana caranya.

Tidak peduli berapa banyak korban yang harus jatuh.

Yang terpenting baginya hanyalah satu:

Bu Saba hidup kembali.

Bahkan jika itu berarti harus hidup di dalam tubuh orang lain.

film pun berakhir dengan Hong yang membersihkan sepatu Jin


Informasi Film

Sutradara
Taweewat Wantha

Penulis
(berdasarkan urutan alfabet)
Thammanan Chulaboriruk


Pemeran

(berdasarkan urutan kredit)

Korranid Laosubinprasoet sebagai Jindahra

Veerinsara Tangkitsuvanich (dari Why R U? (2020)) sebagai Hong

Nichapalak Thongkham (dari The Promise (2017)) sebagai Bussaba

Tarisa Preechatangkit sebagai Orn

Nuttawatt Thanathaveeprasert sebagai Gunn


Pemeran Pendukung

(berdasarkan urutan alfabet)

Chalita Aiemsaard sebagai Sugar Baby

Kornrapee Anantakanont sebagai Pemeran Pengganti Yah

Ongart Cheamcharoenpornkul sebagai Dukun

Jinnanaphat Eaksamutchai sebagai Guru Wali Kelas

Patchanok Iamsa-Ard sebagai Petugas Kebersihan Asrama

Patcharaporn Jangdee sebagai Geng Pembully

Kumron Jivachat sebagai Pelatih

Chaiyaporn Junmoontree sebagai Penjaga Rumah Bordil

Chenidhakan Khemnarong sebagai Petugas Asrama

Kittitat Kitsawat sebagai Penjaga Rumah Bordil

Tanyawan Kumpai sebagai Geng Bussaba

Kamol Prayudhthanakul sebagai Guru Administrasi

Tarakorn Ratanaporn sebagai Pengikut Dukun

Ramita Rattanapakdee sebagai Yah

Tassanee Ruangjam sebagai Ibu Yah

Chanchanok Russameeviriya sebagai Geng Pembully

Natnaree Sriapirath sebagai Geng Pembully

Thanaporn Suknongprong sebagai Geng Bussaba

Kitti Suwanmaneerat sebagai Penjual Jimat

Watchara Tangkaprasert sebagai Ayah Bussaba

Rungroj Tantivechapikul sebagai Kepala Sekolah

Prommin Vongvanitkangwan sebagai Pengikut Dukun


Produser

Kanchanaphan Meesuwan (Produser)
Thanapol Thanarungroj (Produser Eksekutif)
Taweewat Wantha (Produser)


Komposer

Toy Terdsak Janpan (Komposer Musik Asli)