Alur Cerita Film Undertown (2025): Teror Rekaman Misterius dan Iblis Pemangsa Janin
Film horor Undertown (2025) menghadirkan kisah mencekam yang menggabungkan elemen rekaman misterius, legenda kelam, serta teror supranatural yang perlahan menghancurkan kehidupan seorang wanita muda. Bukan sekadar film horor biasa, kisah ini juga menyentuh tema trauma, keputusasaan, dan konsekuensi dari rasa penasaran yang berlebihan.
Awal Cerita: Kehidupan Evi dan Podcast Horor
Cerita dimulai dengan sosok wanita muda bernama Evi, seorang penyiar podcast horor online yang cukup populer. Ia tinggal bersama ibunya yang telah lama koma akibat penyakit misterius.
Di tengah kesedihan dan tekanan hidup, Evi tetap berusaha menjalani rutinitasnya sebagai podcaster. Bersama rekan kerjanya, Justin, mereka rutin membahas cerita-cerita horor, urban legend, hingga fenomena aneh yang dikirimkan oleh para pendengar.

Suatu hari, mereka menerima kiriman misterius berupa 10 rekaman suara tanpa identitas pengirim yang jelas. Kiriman ini terasa berbeda dari biasanya—lebih gelap, lebih personal, dan terasa “hidup”.
Tanpa menyadari bahaya yang mengintai, mereka memutuskan untuk membahas rekaman tersebut dalam siaran mereka.
Rekaman Pertama: Lagu Anak yang Mengerikan

Rekaman pertama memperdengarkan suara seorang wanita bernama Jess yang sering mengigau saat tidur. Ia menyanyikan lagu anak-anak seperti London Bridge is Falling Down.
Awalnya terdengar biasa, namun ketika didengarkan lebih dalam, terdapat sesuatu yang janggal.
Justin menyadari adanya pesan tersembunyi dalam lagu tersebut—sebuah kalimat mengerikan:
“Mike akan membunuh semuanya.”
Sejak saat itu, suasana mulai berubah. Apa yang awalnya dianggap hiburan, mulai terasa seperti ancaman nyata.
Rekaman Berikutnya: Sleepwalking dan Bisikan Misterius
Dalam rekaman selanjutnya, Jess terlihat mengalami sleepwalking sambil terus menyanyikan lagu dengan nada yang semakin menyeramkan.
Suara-suara aneh mulai terdengar:
- Bisikan samar
- Nada lagu yang berubah
- Suasana yang terasa “tidak wajar”
Justin kemudian menjelaskan teori tentang lagu anak-anak yang memiliki pesan tersembunyi jika diputar terbalik—sebuah konsep yang sering dikaitkan dengan praktik okultisme.
Evi, yang awalnya santai, mulai merasa tidak nyaman… namun tetap melanjutkan siaran.
Teror Mulai Masuk ke Dunia Nyata



Sejak memutar rekaman tersebut, hal-hal aneh mulai terjadi di rumah Evi:
- Suara dari rekaman terdengar langsung di dalam rumah
- Lampu kamar ibunya yang dalam kondisi sakit dan koma menyala sendiri
- Muncul patung wanita menyeramkan dengan mulut yang terbuka dan juga dikerubungi banyak bayi yang sebelumnya tidak pernah ada
Tak hanya itu, Evi juga menemukan gambar sosok mengerikan di laci kamar ibunya—seolah-olah ada sesuatu yang sedang “mengawasinya”.
Fakta Mengejutkan: Evi Hamil
Di tengah teror yang semakin intens, Evi mendapat kabar mengejutkan—ia positif hamil.
Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan, namun justru memperparah keadaan.
Karena tanpa ia sadari, kehamilannya menjadikannya target utama dari sesuatu yang jauh lebih gelap.
Pesan Tersembunyi yang Mengerikan
Di pagi buta yang sunyi, Evi masih diliputi rasa penasaran yang tak kunjung hilang. Ia kembali membuka hasil rekaman lagu Baba Domba Ireng yang sebelumnya telah di-reverse. Dengan penuh fokus, Evi mencoba mendengarkan setiap detail suara yang terdengar samar, sambil mencatat kemungkinan pesan tersembunyi di dalamnya.
Namun, apa yang ia temukan justru di luar dugaan.
Dari balik suara yang diputar terbalik, terselip sebuah kalimat mengerikan—sebuah bisikan yang seolah ditujukan langsung kepada pendengarnya:
“Jilat darah sampai kering…”
Mendengar hal tersebut, tubuh Evi langsung membeku. Rasa takut mulai merayap perlahan, menggantikan rasa penasaran yang sebelumnya ia rasakan. Lagu anak-anak yang dulu terdengar polos kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan mengancam.
Kabar Mengejutkan di Tengah Teror
Belum sempat Evi mencerna apa yang baru saja ia dengar, ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan dari dokter membuat suasana semakin tegang.
Dengan suara serius, dokter tersebut menyampaikan hasil pemeriksaan:
Evi positif hamil, dengan usia kandungan sekitar satu setengah bulan.
Kabar ini datang di saat yang sangat tidak tepat.
Di tengah teror yang semakin nyata dan kondisi ibunya yang kritis, kehamilan ini seharusnya menjadi kebahagiaan. Namun bagi Evi, justru menjadi beban baru yang membuatnya semakin tertekan.
Dokter kemudian mengingatkan agar Evi lebih menjaga kesehatannya, baik secara fisik maupun mental. Ia diminta untuk menghindari stres berlebihan dan memastikan kondisi tubuhnya tetap stabil demi keselamatan janin yang dikandungnya.
Teror Semakin Nyata di Dalam Rumah
Keesokan harinya, suasana di rumah Evi masih dipenuhi rasa gelisah. Ia yang sedang sibuk dengan kegiatannya tiba-tiba dikejutkan oleh suara aneh dari lantai dua.
Suara itu terdengar jelas—
keran air yang terbuka sendiri.
Padahal, tidak ada siapa pun di sana.
Meski terasa tidak masuk akal, Evi tetap memberanikan diri untuk mengecek sumber suara tersebut. Dengan langkah perlahan dan jantung berdebar, ia menaiki tangga menuju lantai atas.
Namun, apa yang ia temukan justru semakin memperburuk keadaan.
Patung Misterius yang Selalu Kembali
Saat memasuki ruangan, Evi langsung terpaku.
Patung menyeramkan yang sebelumnya ia sembunyikan di dalam lemari…
kini sudah kembali berada di tempat semula.
Seolah-olah ada seseorang—atau sesuatu—yang sengaja mengeluarkannya.
Rasa kesal bercampur takut mulai menguasai dirinya. Evi yang sudah muak dengan semua keanehan ini akhirnya memutuskan untuk menyembunyikan patung tersebut sekali lagi, kali ini dengan harapan tidak akan muncul kembali.
Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai sadar…
Ini bukan kejadian biasa.
Sosok yang Mengintai dalam Diam
Saat hendak meninggalkan ruangan, Evi tiba-tiba merasakan sesuatu yang ganjil.
Udara terasa lebih dingin.
Suasana menjadi sunyi… terlalu sunyi.
Dan tanpa ia sadari,
ada sosok yang sedang duduk diam di dalam kamar tersebut.
Tidak jelas apakah itu hanya bayangan, halusinasi, atau sesuatu yang benar-benar nyata.
Pertanyaan pun mulai muncul di benaknya:
Apakah semua ini ulah makhluk gaib?
Ataukah… ibunya yang selama ini koma sebenarnya bisa bergerak tanpa ia ketahui?
Misteri Patung yang Semakin Dalam
Memasuki malam hari, rasa penasaran Evi semakin tak terbendung. Ia mencoba mencari tahu asal-usul patung menyeramkan yang tiba-tiba muncul di kamar ibunya.
Patung itu memiliki bentuk yang aneh—sekilas menyerupai sosok religius namun dengan ekspresi wajah yang terasa ganjil dan mengganggu. Semakin lama diperhatikan, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang “salah” dari patung tersebut.
Evi mencoba menelusuri informasi di internet, berharap menemukan penjelasan logis. Namun sayangnya, pencariannya tidak membuahkan hasil apa pun.
Seolah-olah patung itu… tidak pernah tercatat di mana pun.
Podcast Dilanjutkan: Rekaman yang Semakin Gelap
Di tengah kebingungan itu, Justin tiba-tiba menelepon. Ia mengajak Evi untuk kembali melanjutkan podcast mereka, karena masih ada beberapa rekaman yang belum diputar.
Meski kondisi mentalnya sedang tidak stabil, Evi tetap menyetujuinya.
Setelah persiapan selesai, mereka kembali mengudara.
Rekaman keempat pun diputar.
Rekaman Keempat: Awal Teror yang Nyata
Dalam rekaman tersebut, terdengar percakapan antara Jess dan Mike yang sedang membereskan sebuah kamar bayi.
Dari percakapan itu, terungkap bahwa Jess sedang hamil.
Namun suasana hangat itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba, suara aneh mulai terdengar:
- Dentuman keras
- Gangguan misterius
- Suasana yang berubah menjadi mencekam
Seolah-olah ada sesuatu yang ikut hadir… di dalam rekaman itu.
Rekaman Kelima: Mantra Terlarang
Merasa semakin tertarik, Evi meminta Justin untuk melanjutkan ke rekaman berikutnya.
Namun kali ini, suasana berubah drastis.
Dalam rekaman kelima, Jess terdengar mengucapkan mantra aneh dengan nada yang tidak wajar. Kata-kata yang diucapkan terdengar seperti bahasa asing—namun penuh dengan energi yang mengganggu.
Dan di saat yang sama…
Evi mulai merasakan sesuatu.
Udara di rumahnya berubah.
Suasana menjadi berat.
Seolah ada kehadiran lain yang ikut “mendengarkan”.
Rasa takut mulai benar-benar menghantam mentalnya.
Tak kuat menahan tekanan, Evi akhirnya memutuskan untuk mengakhiri podcast lebih awal.
Gangguan di Kamar Sang Ibu
Setelah siaran berakhir, Evi mencoba menenangkan diri. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Saat ia melirik ke arah kamar ibunya, ia terdiam.
Lampu tidur di kamar tersebut kembali menunjukkan keanehan—menyala dan berkedip tanpa sebab yang jelas.
Meski rasa takut mulai menguasainya, Evi tetap memberanikan diri untuk mendekat. Ia khawatir terjadi sesuatu pada ibunya yang sedang dalam kondisi koma.
Namun tanpa ia sadari…
Sosok yang Perlahan Menampakkan Diri
Di balik kegelapan kamar itu, sebuah sosok mulai muncul.
Sosok wanita berambut panjang, mengenakan daster, dengan aura yang sangat menyeramkan—perlahan menampakkan wujudnya.
Sosok itu tidak langsung menyerang.
Ia hanya…
mengamati.
Evi yang mulai merasakan kejanggalan pun diliputi ketakutan yang semakin dalam.
Pikiran buruk mulai bermunculan:
Apakah semua ini ulah makhluk gaib?
Ataukah… ibunya sebenarnya bisa bangun dan bergerak tanpa sepengetahuannya?
Legenda Abizu: Iblis Pemburu
Pada Podcast berikutnya,Justin mengungkap sosok yang mungkin terkait dengan kejadian ini: Abizu.
Menurut legenda:
- Abizu adalah entitas kuno dari zaman Nabi Sulaiman
- Ia adalah sosok yang iri terhadap ibu hamil
- Ia memburu dan membunuh bayi dalam kandungan
Setelah kematiannya, Abizu dipercaya menjadi iblis yang:
- Menyebabkan keguguran
- Menghantui wanita hamil
- Memanfaatkan ritual dan mantra untuk masuk ke dunia manusia
Dan yang paling mengerikan…
Namanya terdengar dalam rekaman.
Pada zaman Nabi Sulaiman Alaihissalam, Abizu merupakan seorang wanita mandul yang dipenuhi rasa iri dan dengki, yang selalu meneror ibu-ibu hamil. Karena rasa iri yang tak tertahankan, Abizu nekat menyusup ke rumah-rumah warga untuk membunuh bayi-bayi tetangganya yang tidak berdosa.
Kabar mengerikan itu akhirnya sampai kepada Nabi Sulaiman, yang saat itu merupakan raja paling berkuasa, sehingga beliau turun tangan dan menjatuhkan hukuman mati kepada Abizu. Namun setelah kematiannya, Abizu membuat perjanjian dengan Raja Iblis. Hingga akhirnya, Abizu berubah menjadi iblis yang terus meneror ibu-ibu hamil agar mengalami keguguran.

Lantas, orang-orang percaya bahwa kini Iblis Abizu bersemayam dalam patung Sain Rita yang berada di Cascia.
Kemudian Justin menambahkan bahwa pernah ada seorang wanita sesat yang menyembah patung tersebut, hingga membuatnya secara sadis membantai suaminya dan juga bayinya sendiri. Wanita itu, yang telah terpengaruh oleh hasutan iblis Abizu, meletakkan tengkorak bayinya di kaki patung Sain Rita sebagai persembahan.
Pengungkapan Kebenaran: Jess dan Mike Sudah Mati
Dalam siaran terakhir, seorang pendengar menghubungi mereka dan mengungkap fakta mengejutkan:
Jess dan Mike—pemilik rekaman tersebut—sudah lama meninggal.
Mereka ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan, dan rumah mereka dipenuhi simbol-simbol aneh.
Ini berarti:
Rekaman yang mereka dengarkan…
bukan sekadar dokumentasi.
Melainkan jejak ritual pemanggilan iblis.
Kematian Sang Ibu
Di tengah kekacauan tersebut, tragedi terjadi.
Ibu Evi yang selama ini koma akhirnya meninggal dunia… tanpa disadari Evi.
Namun kematian itu bukanlah akhir.
Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Kesalahan Fatal: Membaca Mantra
Dalam salah satu rekaman, terdengar sebuah mantra:
“Come in, Abizu…”
Karena penasaran, Evi mencoba mengulang kalimat tersebut saat menganalisis rekaman.
Itulah titik baliknya.
Sejak saat itu:
- Gangguan menjadi semakin nyata
- Sosok misterius mulai muncul
- Rumahnya terasa “tidak aman”
Klimaks: Abizu Bangkit

Semua potongan mulai menyatu:
- Rekaman berisi mantra
- Evi yang sedang hamil
- Patung misterius sebagai media
- Kematian sang ibu sebagai “wadah”
Abizu akhirnya berhasil masuk ke dunia nyata.
Dan ia memilih tubuh ibu Evi yang telah mati sebagai inangnya.
Akhir Tragis: Tidak Ada Jalan 

Dalam adegan puncak yang mencekam:,
- Sosok ibu Evi yang telah dirasuki bangkit kembali
- Ia menjadi perwujudan Abizu
- Evi tidak mampu melarikan diri

Akhirnya layar menjadi hitam dan terdengar suara Eve yang berteriak minta tolong
Evi dan bayi dalam kandungannya dibunuh oleh iblis tersebut.
Cerita berakhir tragis tanpa penyelamatan.
Kesimpulan: Horor yang Berasal dari Rasa Penasaran
Undertown (2025) bukan hanya tentang iblis atau teror supranatural.
Film ini menggambarkan:
- Bahaya rasa penasaran tanpa batas
- Konsekuensi dari “membuka sesuatu yang seharusnya tidak dibuka”
- Dan bagaimana trauma serta kesepian bisa membuat seseorang lengah terhadap ancaman
Yang paling misterius hingga akhir:
Siapa sebenarnya pengirim 10 rekaman tersebut?
Pertanyaan itu dibiarkan menggantung…
menjadi teror tersendiri bagi penonton.
Film Information
Sutradara
Ian Tuason
Penulis
Ian Tuason – penulis
Pemeran
(berdasarkan urutan kredit, telah diverifikasi lengkap)
Nina Kiri – Evy
Adam DiMarco – Justin (suara)
Michèle Duquet – Mama
Keana Lyn Bastidas – Jessa (suara)
Jeff Yung – Mike (suara)
Ryan Turner – Darren (suara)
Ari Millen – Dr. Ram (suara)
Marisol D'Andrea – Perawat (suara)
Austin Tuason – Penelpon 1 (suara)
Seled Calderon – Penelpon 2 (suara)
Bianca Nugara – Penelpon 3 (suara)
Jayda Woods – Penelpon 4 (suara)
Sarah Beaudin – Abby / Penelpon 5 (suara)
Christina Notto – Suara Meditasi
Produser
Al Akdari – produser eksekutif
Chad Archibald – produser eksekutif
Melodie Austria – produser eksekutif
Graham Beasley – ko-produser
Charles Bern – produser eksekutif
Cody Calahan – produser
Thomas W. Choong – produser eksekutif
Anthony Eu – produser eksekutif
Daril Fannin – produser eksekutif
Rod Hafezi – produser asosiasi
Douglas Lee – produser eksekutif
Roy Lee – produser eksekutif
Brit MacRae – produser eksekutif
Luke Maxwell – produser eksekutif
Michael James Regan – line producer
Ben Ross – produser eksekutif
Will Rowbotham – produser eksekutif
Steven Schneider – produser eksekutif
Dan Slater – produser
David Sproat – produser eksekutif
Matthew Sterling – produser eksekutif
Sara Taylor – produser asosiasi
Ian Tuason – produser eksekutif
Komposer Musik
Shanika Lewis-Waddell
Sinematografer / Direktur Fotografi
Graham Beasley
Editor
Sonny Atkins



































