Alur Cerita Film “Anjaam Pathiraa (2020)” – PART 1

 


Alur Cerita Film “Anjaam Pathiraa (2020)” – Misteri Pembunuhan Berantai yang Menyerang Polisi



Pendahuluan


Film Anjaam Pathiraa (2020) merupakan film kriminal thriller India yang penuh ketegangan dan misteri. Cerita ini berpusat pada serangkaian kasus pembunuhan berantai yang korbannya adalah para anggota kepolisian. Yang membuat kasus ini semakin rumit adalah tidak adanya jejak pelaku, serta cara penculikan korban yang terjadi tanpa perlawanan sedikit pun.

Sebuah kasus yang kemudian menyeret seorang psikolog kriminal berpengalaman ke dalam investigasi penuh teka-teki.




Kasus Pembunuhan Berantai yang Menggemparkan Polisi

Film ini menceritakan tentang terjadinya kasus2 mengerikan: beberapa polisi ditemukan tewas secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, dan yang lebih aneh—korban selalu menghilang tanpa perlawanan sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan.

Metode pembunuhan yang digunakan sangat rapi dan terencana, membuat polisi kesulitan melacak pelaku.




Dr. Anwar: Psikolog Kriminal yang Terlibat

Dr. Anwar Husein adalah seorang psikolog berpengalaman yang sering menangani pasien dengan gangguan mental. Ia dikenal mampu memahami kondisi psikologis manusia secara mendalam.


Suatu hari, ia datang ke penjara untuk mewawancarai seorang narapidana bernama Raffi, seorang pembunuh berantai yang telah membunuh 14 orang dan akan segera dihukum gantung.


Dalam wawancara tersebut, Raffi menceritakan masa kecilnya yang keras, kehilangan ibu sejak kecil, serta kehidupan penuh tekanan ekonomi. Ia berhenti sekolah dan bekerja di tempat pemotongan ayam. Di sinilah sisi gelapnya mulai muncul.

Awalnya ia menikmati menyembelih ayam, namun lama-kelamaan hasrat itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan—keinginan untuk membunuh manusia.

Raffi bahkan dengan dingin menceritakan bagaimana ia menikmati suara tulang manusia yang patah dan ekspresi korban saat disiksa.



Kehidupan Anwar dan Karier Barunya

Di rumahnya, Anwar menjalani kehidupan normal bersama istri, Fatimah, dan seorang anak kecil. 


Ia juga menjalankan praktik konsultasi psikologi untuk pasien umum yang mengalami kecemasan dan gangguan mental.


Tak lama kemudian, sahabatnya yang merupakan pejabat kepolisian yang bernama Anil Madhavan, merekomendasikan Anwar untuk menjadi konsultan kriminologi di kepolisian kota Kochi.


Meski sudah bergelar magister psikologi, Anwar tetap harus mengambil diploma kriminologi untuk memenuhi syarat jabatan tersebut. Ia menerima tawaran itu karena ingin memperdalam pengetahuan tentang kasus kriminal secara langsung di lapangan.




Pertanda Aneh Sebelum Kasus Dimulai

Sebelum kasus besar terjadi, Anwar mengalami kejadian aneh. Saat pulang, ia bertemu seorang pria misterius yang menyebutnya dengan nama “Julius Caesar” dan mengatakan bahwa mulai besok Anwar tidak akan bisa tidur nyenyak.


Anwar pun hanya tersenyum dan memberikannya uang, 


meski dianggap gila, perkataan itu ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi Anwar, seolah menjadi pertanda bahwa hidupnya akan berubah.




Kejadian Penculikan Polisi Abraham

Di sisi lain, seorang polisi bernama Abraham yang memiliki kebiasaan berjudi sedang dalam perjalanan pulang dalam kondisi mabuk.



Tiba-tiba, listrik di sekitar lokasi padam. Dalam kegelapan, ia melihat sosok misterius bertopeng serigala. Beberapa saat kemudian, Abraham diculik secara tiba-tiba tanpa sempat melawan.



Keesokan harinya, kabar hilangnya Abraham sampai ke kepolisian. Tidak lama kemudian, mayatnya ditemukan di area pertambangan batu oleh dua pekerja.

Kondisi tubuh Abraham sangat mengerikan—mata dan jantungnya telah dicabut oleh pelaku.




Investigasi Dimulai

Polisi segera melakukan olah TKP, dan Anwar dipanggil untuk membantu investigasi. Dari hasil awal, tidak ditemukan sidik jari sama sekali di lokasi kejadian.


Setelah otopsi, Hasil forensik menunjukkan bahwa:

  • Kedua tangan dan kaki korban diikat dengan rapi
  • Tidak ada tanda perlawanan
  • Tubuh korban diberi parfum untuk mengelabui anjing pelacak
  • Mata korban dicabut saat masih hidup
  • Jantung korban kemudian diambil
  • Waktu kematian diperkirakan sekitar pukul 02.00 pagi


Cara pembunuhan ini menunjukkan bahwa pelaku adalah seseorang yang sangat terorganisir dan memiliki rencana matang.




Teori Awal dan Kecurigaan Polisi

Wakil Komisaris Polisi Katherine mengambil alih investigasi. Ia meminta tim untuk menelusuri latar belakang Abraham, termasuk kemungkinan konflik atau kasus yang pernah ia tangani.


Anwar sendiri berpendapat bahwa pelaku mungkin terdorong oleh dua kemungkinan:

  • Balas dendam
  • Gangguan kejiwaan berat

Namun, yang paling membingungkan adalah bagaimana seorang polisi bisa diculik tanpa perlawanan sama sekali.




Kesulitan dalam Penyidikan

Tidak ada CCTV di sekitar lokasi kejadian, sehingga tidak ada rekaman yang bisa membantu penyelidikan.

Anwar semakin yakin bahwa pelaku telah memilih lokasi dengan sangat hati-hati, memastikan korban bisa diculik tanpa saksi.


Pertanyaan besar pun muncul:

  • Mengapa korban tidak melawan?
  • Apakah pelaku menggunakan obat bius?
  • Ataukah korban memang mengenal pelaku?

Namun teori kloroform dianggap tidak cukup kuat karena korban seharusnya masih bisa melakukan perlawanan dalam waktu singkat.



Temuan Mengerikan dari Hasil Autopsi

Keesokan harinya, dokter forensik akhirnya menyelesaikan pemeriksaan terhadap tubuh Abraham. Hasilnya cukup mengejutkan—dalam organ dan cairan tubuh korban ditemukan zat Zolpidem, sebuah obat penenang yang biasa digunakan untuk penderita insomnia.

Namun, dosis yang ditemukan sangat tinggi, jauh dari batas normal penggunaan medis. Hal ini mengindikasikan bahwa korban kemungkinan besar telah dilumpuhkan sebelum dibunuh.

Abraham sendiri dikenal sebagai polisi yang teguh pada prinsip. Sepanjang kariernya, ia telah dipindah tugaskan sebanyak 17 kali karena keberaniannya melawan tekanan dan ancaman. Fakta ini semakin memperkuat dugaan bahwa ia bukan korban biasa.



Teori Anwar: Pembunuh Tak Akan Berhenti

Setelah melakukan analisis di ruang kerja, Anwar segera menghubungi Anil. 

Menurut Anwar, pola pembunuhan yang “dipamerkan” seperti ini menunjukkan bahwa pelaku menikmati aksinya. Lebih dari itu, ia percaya bahwa pembunuh akan terus mengulangi perbuatannya.

Yang paling mengkhawatirkan, Anwar menduga bahwa target utama pelaku adalah anggota kepolisian.



Ia bahkan menyarankan agar peringatan darurat segera disebarkan ke seluruh polisi di kota Kochi. Sayangnya, Anil menganggap teori tersebut berlebihan dan memilih untuk mengabaikannya.

Keputusan itu menjadi awal dari bencana berikutnya.



Korban Kedua Muncul dengan Pola yang Sama

Tak lama kemudian, kejadian serupa kembali terjadi.

Seorang polisi bernama Ngadimin sedang bertugas menilang pengendara. Ia sempat menjauh dari rekannya karena menerima telepon dari istrinya. Di saat itulah situasi berubah drastis.

Listrik di sekitar lokasi tiba-tiba padam.


Sebuah mobil misterius dengan cahaya merah muncul. Sosok bertopeng serigala terlihat mendekat, diikuti oleh seseorang yang menyapa dengan santai—seolah kejadian itu hanyalah permainan.



Ngadimin pun menghilang.

Saat rekan-rekannya menyadari hal itu, yang tersisa hanyalah ponsel miliknya. Tidak ada jejak lain.




Operasi Besar-besaran Dimulai

Laporan segera dibuat, dan dalam waktu singkat Anil, Katherine, serta tim kepolisian turun langsung ke lokasi.


Katherine segera mengambil alih komando dan memerintahkan seluruh unit untuk menyisir area sepi di kota Kochi. Ia yakin pelaku akan segera membuang mayat korban.


Seluruh polisi dikerahkan. Jalan-jalan diperiksa. Kendaraan mencurigakan dihentikan.Namun hasilnya nihil.Bahkan setelah berjam-jam pencarian hingga keesokan harinya, tidak ada tanda-tanda keberadaan korban maupun pelaku.



Penemuan Mayat yang Mengejutkan

Di saat penyelidikan buntu, sebuah kejutan datang dari arah yang tak terduga.

Seorang sopir pribadi milik Katherine menemukan sesuatu mencurigakan di belakang kantor polisi. Di antara tumpukan kayu, terdapat sebuah patung Lady Justice.

Namun yang membuatnya terkejut bukanlah patung itu—melainkan apa yang ada di baliknya.

Mayat Ngadimin ditemukan di sana.

Pelaku dengan sengaja meletakkan korban tepat di belakang kantor polisi, seolah ingin mengejek seluruh institusi tersebut.


Pola Pembunuhan yang Sama

Setelah diperiksa, kondisi Ngadimin ternyata sama dengan korban pertama:

  • Mata dicopot
  • Jantung diambil
  • Tubuh disemprot parfum
  • Tidak ada sidik jari sama sekali

Kini tidak ada lagi keraguan—ini adalah pembunuhan berantai yang sistematis.



Misteri CCTV yang Diretas

Tim kemudian memeriksa rekaman CCTV di sekitar kantor polisi. Anehnya, tidak ada satu pun rekaman yang menunjukkan pelaku membuang mayat.

Namun Anwar menemukan kejanggalan.


Dalam rekaman terlihat sebuah mobil pickup membawa patung Rahwana yang diketahui berasal dari festival tiga hari sebelumnya. Artinya, rekaman tersebut bukan rekaman terbaru.

Kesimpulannya jelas: CCTV telah diretas dan dimanipulasi.

Pelaku bukan hanya kejam, tetapi juga sangat cerdas dan menguasai teknologi tingkat tinggi.



Pesan Tersembunyi dari Patung Lady Justice

Anwar juga menyadari hal lain yang tidak kalah penting.

Patung Lady Justice yang ditemukan tidak menggunakan penutup mata—simbol utama keadilan yang tidak memihak. Bahkan wajah patung tersebut bukan wajah khas Yunani, melainkan wajah orang India.

Ini bukan kebetulan.

Pelaku diduga sedang mengirim pesan bahwa hukum telah kehilangan keadilannya—bahwa sistem kepolisian telah “buta sebelah” dan tidak lagi netral.

Fakta bahwa patung yang sama juga ditemukan di lokasi korban pertama semakin memperkuat dugaan ini.



Melibatkan Hacker untuk Mengungkap Kebenaran

Untuk mengimbangi kecanggihan pelaku, Anwar mendatangi seorang hacker bernama Andrew—seseorang yang pernah ia kenal sebelumnya.

Andrew dikenal memiliki kemampuan meretas sistem CCTV dan ATM. Meski pernah diperingatkan untuk menggunakan keahliannya secara positif, ia tetap berada di jalur ilegal.

Namun dalam situasi ini, polisi tidak punya pilihan lain.



Andrew dibawa ke kantor polisi dan dipaksa membantu penyelidikan.

Menurutnya, pelaku pasti memiliki akses mendalam terhadap sistem keamanan—mulai dari model CCTV, username, password, hingga kemungkinan meretas ponsel para polisi untuk memantau pergerakan mereka.

Ini menjelaskan bagaimana pelaku selalu selangkah lebih maju.



Petunjuk yang Hampir Terlewat

Sementara itu, Anil merilis gambar patung Lady Justice ke publik, berharap ada yang mengenali pembuatnya.

Namun hasilnya nihil—semua toko mengatakan bahwa patung tersebut pasti dibuat secara khusus (custom).

Di tengah keputusasaan, seorang wanita misterius datang ke kantor polisi untuk memberikan informasi terkait patung tersebut.

Sayangnya, karena kelalaian petugas, wanita itu tidak segera dilayani dan akhirnya pergi begitu saja.

Kesempatan emas pun hilang.



Keputusasaan Mulai Terasa

Anwar mulai merasa frustrasi.

Untuk pertama kalinya, ia mengakui bahwa dirinya tidak berdaya menghadapi pelaku yang selalu unggul satu langkah.

Fatimah mencoba memberikan sudut pandang lain—bahwa patung Lady Justice mungkin menyimpan makna tersembunyi, seperti karya seni terkenal yang penuh simbolisme.

Namun Anwar menolak. Ia percaya bahwa itu hanyalah patung biasa, apalagi setelah diperiksa dengan X-ray tanpa hasil.

Meski begitu, satu hal yang pasti—pelaku masih bebas, dan permainan ini belum berakhir.



 

Rapat besar diadakan di setiap kantor polisi kota Kochi

Keesokan harinya setelah serangkaian pembunuhan misterius, kepolisian kota Kochi mengadakan rapat besar yang dihadiri seluruh pimpinan dari berbagai kantor polisi. Situasi semakin genting, dan tekanan publik terus meningkat.


Katherine, yang memimpin tim investigasi khusus, langsung mengambil langkah tegas. Ia menegaskan bahwa mulai saat itu semua bentuk komunikasi digital seperti email, WhatsApp, DM, hingga media sosial harus dihentikan. Semua komunikasi wajib dilakukan secara langsung untuk menghindari kemungkinan peretasan oleh pelaku yang sangat cerdik.

Tak hanya itu, Katherine juga memerintahkan patroli besar-besaran di seluruh kota. Setiap tim terdiri dari dua polisi bersenjata lengkap. Ia sadar betul bahwa pembunuh berantai ini bukan lawan biasa—ia cerdas, terorganisir, dan sangat berbahaya.




Penculikan di Tengah Patroli

Saat patroli dimulai, suasana kota terasa mencekam. Jalanan sepi, dan setiap tim berkomunikasi melalui perangkat HT. Namun ketegangan meningkat ketika sebuah mobil mencurigakan mengikuti Katherine.


Paulsen rekan Katherine yang menggunakan motor segera diminta waspada. Tapi ternyata mobil tersebut hanya berisi orang-orang iseng yang mencoba menggoda Katherine. Mereka langsung kabur setelah ditodong pistol.

Namun situasi berubah drastis.


Ketika Katherine mencoba menghubungi Paulsen kembali, tidak ada jawaban. Yang ditemukan hanyalah motor Paulsen tergeletak di jalan, lengkap dengan ponselnya. Paulsen… menghilang.



Dan yang mengerikan, si pembunuh juga sengaja bersiul di HT untuk mengejek semua polisi yang tidak bisa menangkapnya.seolah pelaku sedang mengejek polisi. Jelas, ini bukan sekadar penculikan biasa, melainkan permainan psikologis dari sang pembunuh.




Petunjuk yang Membingungkan

Di kantor polisi, tim menyelidiki rekaman CCTV dari lokasi kejadian. Mereka kembali melihat sosok bertopeng serigala—figur misterius yang sudah muncul di kasus sebelumnya. Dalam rekaman itu, hanya terdengar satu kata sederhana: “halo”… sebelum Paulsen menghilang tanpa jejak.

Kesederhanaan metode penculikan justru membuatnya semakin mengerikan.



Katherine pun mendapat tekanan keras dari atasannya karena dianggap gagal mengendalikan situasi.



 Sementara itu, Andrew menjelaskan bahwa pelaku kemungkinan membajak frekuensi komunikasi polisi, sehingga bisa masuk ke jaringan mereka dengan mudah.

Dari analisis video, tim menyimpulkan bahwa pelaku kemungkinan berjumlah dua orang: satu bertopeng serigala, dan satu lagi sebagai eksekutor.




Tekanan Publik dan Rasa Bersalah

Kasus ini semakin memanas saat komisaris mengadakan konferensi pers dan mengumumkan bahwa seorang polisi kembali menjadi korban. Media mulai meragukan kemampuan kepolisian, apalagi dengan jumlah anggota yang mencapai ribuan namun pelaku belum tertangkap.



Katherine merasa terpukul. Terlebih lagi, Paulsen memiliki istri yang sedang hamil dan akan melahirkan dalam waktu dekat.

Seluruh tim pun kelelahan. Selama empat hari, mereka hampir tidak beristirahat.




Teror yang Semakin Kejam

Di sisi lain, teror berlanjut. Dua orang kurir misterius mengirimkan sebuah kulkas ke rumah Anwar.


 Awalnya dianggap sebagai kejutan, namun isi di dalamnya justru terdapat mayat Paulson yang mengungkap kekejaman pelaku yang telah merencanakan segalanya dengan matang.



CCTV di sekitar rumah sudah dirusak sejak dua hari sebelumnya. Tidak ada jejak. Tidak ada petunjuk.




Jejak Samir yang Menyesatkan

Tim forensik kemudian menemukan sidik jari pada alat yang digunakan untuk menggantung jasad Paulsen. Hasilnya mengarah pada seorang pria bernama Samir—mantan bandar narkoba yang pernah dipenjara karena penculikan.Ironisnya, Paulsen adalah polisi yang dulu menangkap Samir.Lebih mencurigakan lagi, Samir pernah bersumpah akan membalas dendam kepada semua polisi yang terlibat dalam penangkapannya. Dan ia baru saja bebas tiga bulan lalu.



Polisi segera memburu Samir. Namun semua usaha sia-sia—tidak ada yang tahu keberadaannya.


Andrew kemudian melacak kehidupan pribadi Samir dan menemukan hubungannya dengan seorang wanita bernama Vicky. 


Setelah diinterogasi, Vicky mengaku sempat memberikan ponsel kepada Samir, namun sudah sebulan tidak berkomunikasi dengannya.,Lokasi ponsel pun berhasil dilacak.




Kebenaran yang Mengejutkan

Saat tim tiba di lokasi—sebuah gedung kosong—mereka menemukan sesuatu yang tak terduga.

Samir… sudah mati.

Tubuhnya bahkan diawetkan seperti mumi. Ponselnya sengaja dibiarkan aktif untuk mengecoh polisi.

Kesimpulannya jelas: sidik jari Samir hanyalah jebakan. Pelaku sengaja menyesatkan penyelidikan.




Petunjuk dari Patung Lady Justice

Di tengah kebuntuan, sebuah petunjuk tak terduga muncul. Uap panas secara tidak sengaja mengungkap inisial tersembunyi pada patung Lady Justice: “SD”.


Petunjuk itu membawa mereka ke seorang seniman bernama Sudhakar Devalokam.

Saat ditemui, Sudhakar ternyata seorang tunanetra. Ia langsung menyadari bahwa patung-patung yang digunakan dalam kasus pembunuhan adalah karyanya.

Ia menceritakan bahwa enam bulan lalu, seorang pria misterius memesan patung Lady Justice dengan detail khusus dan membayar sangat mahal. Pria itu juga meminta agar tidak ada identitas pembuat pada patung tersebut.

Namun sebagai seniman, Sudhakar diam-diam menyisipkan inisialnya.



Yang lebih mengerikan, setelah mengambil patung tersebut, pria itu bersama rekannya sengaja membuat Sudhakar menjadi buta dengan cairan kimia—agar tidak bisa mengidentifikasi mereka.




Ancaman yang Membungkam Saksi

Putri Sudhakar kemudian mengungkap bahwa ia sempat ingin melapor ke polisi. Namun ia menerima ancaman langsung dari pelaku.

Jika ia berbicara, dirinya dan ayahnya akan dibunuh.

Ancaman itu membuatnya memilih diam… hingga akhirnya semuanya terlambat.



Teror Berlanjut: Polisi Kembali Jadi Target

Di sisi lain, Andrew mengusulkan strategi baru yang cukup cerdas. Ia membuat aplikasi khusus yang dipasang di seluruh ponsel polisi. 

Aplikasi ini akan otomatis mengirim notifikasi ke pusat jika ponsel terjatuh—mengingat setiap korban sebelumnya selalu menjatuhkan ponsel saat diculik.
Harapannya, metode ini bisa menjadi celah untuk mendeteksi aksi pelaku lebih cepat.




Perlawanan yang Gagal

Malam itu, patroli kembali berjalan seperti biasa. Salah satu polisi bernama Kartoyo memutuskan pulang lebih awal. Tanpa disadari, ia sudah menjadi target berikutnya.


Sesampainya di rumah, listrik tiba-tiba padam. Dalam kegelapan, sosok bertopeng serigala muncul… diikuti sosok lain yang menyapa dengan kata “halo”—ciri khas pelaku.

Namun kali ini berbeda.



Kartoyo sempat melawan. Terjadi perkelahian sengit, tetapi jumlah pelaku yang lebih dari satu membuatnya kalah. Ia dipukul hingga pingsan dan diculik.


Tetangganya sempat melihat kejadian itu, tetapi terlalu takut untuk bersaksi setelah diancam akan dibunuh.


Tak lama, notifikasi dari ponsel Kartoyo masuk ke sistem Andrew. Polisi dan Andrew segera menuju lokasi—namun lagi-lagi terlambat.


Bersambung ke PART 2